Bangkai Pesawat Dijadikan Bioskop

Kabupaten Klaten, Jawa Tengah punya destinasi baru lho. Bangkai pesawat yang tak terpakai dijadikan spot baru buat nonton film alias bioskop mini.

Letaknya ada di Desa Janti, Kecamatan Polanharjo, Klaten yang dikenal pula dengan wisata airnya. Dari puluhan rumah makan dan pemancingan di Janti, ada satu lokasi yang unik karena juga digunakan sebagai bandara, bernama Pancingan 100.

Tampak di halamannya terpampang papan nama bertuliskan Bandara Adi Sumitro. Sebuah pesawat terlihat diparkir dan traveler jangan kaget karena pesawat tersebut adalah pesawat asli.

“Kita ingin punya ikon sehingga orang kalau mau wisata pilih ke sini, yang ada pesawatnya. Awalnya saya lihat di Yogyakarta itu ada pesawat digunakan untuk restoran. Saya coba cari, akhirnya bisa mendatangkan pesawat ini,” kata pemilik Pancingan 100, Nurmiyanto, Kamis (27/7/2017).

“Pesawat ini digunakan untuk edukasi anak-anak. Mereka bisa mengenal alam lewat film. Pengunjung juga bisa berfoto di dalam kokpit,” imbuh dia.

Pesawat Boeing 737-200 itu ia peroleh dari Bandara Soekarno-Hatta. Jam terbang pesawat itu sudah habis (grounded) sehingga tidak digunakan untuk terbang lagi juga mesin pesawat pun telah dilepas.

Bagian dalam pesawat masih utuh dan digunakan sebagai tempat menonton film pendek. Pesawat dibagi menjadi tiga ruangan, yaitu kokpit, ruang pemutaran film 3D, dan ruang pemutaran teater alam.

Pengunjung dikenakan biaya Rp 10 ribu untuk bisa menikmati teater alam. Sedangkan untuk menonton film 3D, pengunjung dikenakan biaya Rp 20 ribu dengan durasi masing-masing film sekitar 20 menit.

“Untuk teater alam kita siapkan 66 seat. Untuk film 3D kita siapkan 36 seat,” ungkap dia.

Wahana wisata tersebut terbilang masih baru. Sang pemilik mendatangkan pesawatnya pada Oktober 2016. Selama dua bulan, pesawat tersebut dirakit dan ditata ulang. 10 Desember 2016, Bandara Adi Sumitro pun diresmikan.

Langkah pemilik pemancingan menjadi jurus yang ampuh untuk mendatangkan wisatawan. Nilai investasi yang lebih dari Rp 1 miliar itu diyakininya tak akan sia-sia.

“Untuk mendongkrak wisatawan lebih cepat. Memang yang dicari wisatawan pesawatnya, tapi mereka juga pasti mampir untuk makan,” ungkap dia.

Kini, pesawat itu telah menjadi ikon baru di Desa Janti yang juga digunakan sebagai objek foto.

Advertisements