Serangan siber global yang melanda 99 negara diyakini menggunakan perangkat peretasan yang dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA). Otoritas keamanan AS menyadari hal ini dan siap memberikan bantuan teknis kepada negara-negara yang terdampak.

Perangkat peretasan (tools) itu diklaim telah dicuri kelompok peretas ‘The Shadow Brokers’ bulan lalu. Mereka menyebut perangkat dengan kode nama ‘Eternal Blue’ itu sebagai bagian dari perangkat peretasan yang dikembangkan NSA.

BBC melaporkan, kelompok peretas ini awalnya sempat berusaha menjual perangkat itu dalam lelang online. Namun kemudian mereka membuatnya tersedia secara bebas di internet. Mereka bahkan merilis password untuk perangkat itu pada 8 April. Saat itu, kelompok peretas ini menyebut aksinya sebagai ‘protes’ untuk Presiden AS Donald Trump.
Jacob Kroustek, peneliti dari perusahaan keamanan dunia maya, Avast, menyatakan ada lebih dari 75 ribu serangan siber terdeteksi di 99 negara. Serangan siber ini melibatkan ransomware, malware paling cepat berkembang, bernama WCry atau WannaCry. Peneliti dari perusahaan keamanan siber Karpersky, Costin Raiu, menyebut malware itu mereplika diri sendiri dan menyebar cepat dalam jaringan komputer.

Malware itu memperdaya korbannya untuk membuka attachment hingga email spam yang dari luar tampak seperti berisi tagihan, tawaran pekerjaan, peringatan keamanan dan dokumen-dokumen sah lainnya. Ransomware itu mengenkripsi data-data di dalam komputer yang diserangnya dan meminta bayaran US$ 300 – US$ 600, dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin, untuk memulihkan akses pada data yang ‘terkunci’.

Pembayaran harus dilakukan dalam 3 hari atau harga akan naik dua kali lipat. Jika tidak ada pembayaran dalam waktu 7 hari, maka data atau dokumen yang ‘terkunci’ itu akan dihapus.

Serangan siber ini mengenai sejumlah institusi maupun organisasi penting di beberapa negara, seperti jaringan komputer rumah sakit Inggris, jaringan Kementerian Dalam Negeri Rusia, jaringan komputer perusahaan telekomunikasi Spanyol ‘Telefonica’ dan perusahaan ekspedisi AS FedEx.

Advertisements